Nabire, [14/12/2025] – Dalam ibadah minggu raya yang dipadati jemaat di Gereja Efata Nabire, Pendeta Yulianus Anouw, S.Th., M.Mis., menyampaikan khotbah yang mendalam terambil dalam Mazmur 126:1-6 dengan mengusung tema “Natal Membawa Sukacita Abadi”. Khotbah yang disampaikan pada Minggu raya pagi itu mengaitkan makna sejati kelahiran Yesus dengan berbagai aspek harapan, perdamaian, dan kepuasan yang abadi bagi umat.
Pendeta Yulianus memulai dengan merujuk Mazmur 126 yang menggambarkan “ketika Tuhan membangkitkan umat-Nya dari pengasingan, itu seperti mimpi”. Dia menjelaskan bahwa “Natal bermimpi akan jadi kenyataan” – seperti bagaimana janji kedatangan Juruselamat yang telah lama dinantikan oleh bangsa Israel akhirnya terwujud dalam kelahiran Yesus di Betlehem. “Mimpi akan keselamatan, kasih, dan harapan yang dulunya hanya dalam hati, kini menjadi kenyataan yang kita rayakan hari ini,” ujarnya.
Selanjutnya, dia menekankan bahwa “Natal membawa sukacita abadi kepada Maria”, merujuk pada Lukas 1:38 (di mana Maria menerima panggilan Tuhan dengan suka hati) dan Lukas 1:46 (Lagu Maria yang mengungkapkan sukacita dalam hati karena dipilih sebagai ibu Yesus). “Sukacita Maria bukan hanya sukacita sementara karena menjadi ibu, tetapi sukacita abadi karena mengetahui dia berperan dalam rencana kasih Tuhan bagi manusia,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pendeta Yulianus juga menjelaskan bahwa “Natal mendamaikan masalah maka hatiku sukacita”, mengutip Yesaya 9:1-9 yang menyatakan kedatangan Yesus sebagai “Pangeran Damai”. Dia menekankan bahwa kelahiran Yesus membuka jalan bagi perdamaian antara manusia dengan Tuhan dan antar manusia, menghilangkan perbedaan dan konflik yang memecah belah. “Ketika damai tiba, sukacita akan memenuhi hati kita, karena tidak ada yang lebih indah daripada hidup dalam kedamaian,” katanya.
Di akhir khotbah, dia kembali ke pesan Mazmur 126 dan menambahkan poin tentang “Natal menghapuskan air mata, menanam sambil menanggis dan menuai dengan bersorak-sorai”, menguatkan dengan Mazmur 5:6. “Sebelum Natal, kita mungkin hidup dalam kesedihan dan kesulitan – seperti menanam sambil menangis. Tetapi dengan kedatangan Yesus, air mata kita dihapuskan, dan kita akan menuai hasil kerja kita dengan sukacita yang besar,” jelasnya.
Khotbah yang penuh makna itu diakhiri dengan doa agar jemaat dapat membawa sukacita abadi Natal dalam hidup sehari-hari, membagikannya kepada sesama, dan mempercayai bahwa semua mimpi yang baik akan Tuhan akan terwujud.






