Deiyai, 03/12/2025 – Di tanah Deiyai yang seharusnya merayakan kelahiran Sang Juru Selamat, Natal tahun ini dinodai darah. Seorang pemuda Deiyai meregang nyawa di tangan aparat kepolisian, menyisakan luka menganga di hati keluarga dan seluruh masyarakat. Damai Natal yang diimpikan, kini berganti jerit tangis dan amarah, pada 03 Desember 2025 di Mogoketeiyo, deiyai, Papua Tengah.
Yanuarius Pekei, pemuda harapan keluarga, meregang nyawa setelah peluru aparat menembus tubuhnya. Di usianya yang masih muda, ia menyimpan sejuta impian dan harapan untuk membangun Deiyai yang lebih baik. Namun, impian itu kandas seketika, dirampas oleh kebrutalan aparat yang seharusnya melindungi.
“Anak saya tidak bersalah! Dia hanya ingin merayakan Natal dengan damai. Mengapa mereka membunuhnya?
“Natal tahun ini adalah Natal terkelam dalam hidup kami. Kebahagiaan kami dirampas, diganti dengan kesedihan yang tak terperi.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tragedi ini bukan hanya sekadbar insiden kriminal biasa. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang Sistematis dan Terstruktur, yang terus menghantui masyarakat Papua. Aparat kepolisian, yang seharusnya menjadi pengayom dan pelindung, justru menjadi momok yang menakutkan.
Mereka menuntut agar pelaku penembakan segera diadili dan dihukum seberat-beratnya. Mereka juga menuntut agar pemerintah pusat dan daerah segera mengambil tindakan tegas untuk menghentikan pelanggaran HAM di deiyai.
Kami ingin Natal yang damai, Natal yang aman, Natal yang bebas dari rasa takut dan Intimidasi.
Natal di Deiyai tahun ini adalah Natal yang berlumuran air mata dan darah. Namun, di tengah kesedihan dan amarah, semangat perlawanan dan harapan akan keadilan tetap menyala.






