Jayapura, TERANGBEBEKE – Irene Sokoy, seorang ibu hamil asal Kampung Hobong, Sentani, Kabupaten Jayapura, meninggal dunia bersama bayinya yang dikandung setelah ditolak oleh empat rumah sakit di Kota dan Kabupaten Jayapura, Papua, pada Kamis (20/11/2025).
Kisah pilu ini bermula ketika Irene, seorang kader Posyandu yang dikenal aktif, merasakan tanda-tanda akan melahirkan anak ketiganya pada Minggu sore, sekitar pukul 14.00 WIT. Dengan didampingi suaminya, Neil Kastro Kebey, Irene segera menuju RSUD Yowari dengan harapan mendapatkan pertolongan medis yang memadai.
“Bapa dan mama, saya sudah rasa mau melahirkan,” pesan singkat Irene kepada mertuanya, Abraham Kabey, sebelum berangkat ke rumah sakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, setibanya di RSUD Yowari, mereka mendapati kenyataan pahit. Alih-alih mendapatkan penanganan, Irene justru ditolak dengan alasan yang belum jelas. Keadaan semakin mendesak, Neil kemudian membawa istrinya ke rumah sakit lainnya di Jayapura, namun nasib serupa kembali menimpa mereka. Penolakan demi penolakan terus berlanjut hingga akhirnya Irene menghembuskan nafas terakhir bersama bayinya yang belum sempat melihat dunia.
Kepergian Irene Sokoy meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat. Ironisnya, Irene yang dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap kesehatan masyarakat, justru menjadi korban dari sistem pelayanan kesehatan yang belum optimal di Papua.
Kasus ini menjadi sorotan tajam dan memicu keprihatinan mendalam tentang kondisi layanan kesehatan di Papua. Banyak pihak menuntut adanya investigasi mendalam serta perbaikan sistem agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Kematian Irene Sokoy dan bayinya adalah tragedi yang seharusnya tidak terjadi. Ini adalah panggilan bagi semua pihak terkait untuk segera berbenah dan memastikan setiap ibu hamil di Papua mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan berkualitas.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.






